Hal itu disampaikannya saat dikukuhkan sebagai guru besar tetap bidang ilmu pengelolaan perikanan perairan umum dan teknologi reproduksi ikan pada Fakultas Perikanan dan kelautan Universitas UBH.Friday, August 1, 2008
87 Ikan Langka Indonesia Hampir Punah
Hal itu disampaikannya saat dikukuhkan sebagai guru besar tetap bidang ilmu pengelolaan perikanan perairan umum dan teknologi reproduksi ikan pada Fakultas Perikanan dan kelautan Universitas UBH.Thursday, June 19, 2008
SAMPAH MEMBAWA PELUANG USAHA
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah DKI Jakarta yang terletak di Bantar Gebang belum mendapat perhatikan dalam proses pengelolaan sanitary landfill yang tidak diterapkan dengan semestinya. Memang mengurus sampah berkala besar bukan hal yang mudah dan sederhana. Dinegara-negara maju sampah ditangani secara terpadu antara pendekatan bisnis, iptek mutakhir dan kebijakan fiskal oleh Pemda setempat.
* Pemanfaatan Sampah
1. Sampah yang dikumpulkan dimanfaatkan untuk:
· Sistem pembakaran : manfaat relatif tidak ada, karena hanya bersifat memusnahkan saja.
· Untuk reklamasi : sampah sebagai bahan urugan
· Recycling : masih sebagian kecil atau dapat disimpulkan belum ada
2. Pembuatan Kompos
Sejak tahun 1974 sudah ada beberapa pihak swasta yang pernah mendirikan usaha-usaha di bidang sampah untuk dijadikan kompos, seperti di Jakarta, Bandung, Jawa Timur dan Medan. Ada yang pernah beroperasi, namun terbentur pada masalah pemasaran dan harga yang tidak bersaing dengan pupuk buatan, lebih-lebih lagi pupuk buatan mendapat subsidi pemerintah.
3. Dijadikan Bahan Bakar
Sampah Kota Jakarta merupakan potensi yang besar untuk dijadikan bahan bakar alternatif. Dari + 20.000 m3 sampah bisa menghasilkan 1.800 ton briket sampah, yang nilainya tidak berbeda dengan batu bara. Pabrik-pabrik semen di Cibinong bisa memanfaatkan briket ini.
* Ada 3 Alternatif untuk memecahkan masalah sampah di jakarta
1. Sistem sanitary landfill (sudah diterapkan di Bantar Gebang)
2. Pembangunan Pabrik Kompos
3. Pembuatan perusahaan-perusahaan Briket Sampah
Prospek Bisnis Anti Polusi di Indonesia
Dari contoh-contoh diatas, sampah bisa melahirkan peluang usaha dan menciptakan lapangan kerja baru. Masih ada banyak peluang bisnis yang berkaitan dengan lingkungan hidup tetapi belum dikembangkan di Indonesia, antara lain :
- Jenis usaha skla besar untuk WTEP (Wask to energy Plant) atau incinerator. Bisnis ini memerlukan modal yang sangat besar, karena itu perusahan yang menangani harus kuat dari segi keuangan, pengalaman dari segi manajemen sampah dan mempunyai SDM lingkungan dan sosial budaya Indonesia.
- Salah satu alternatif jenis usaha yang dikembangkan di Tokyo adalah Pusat Listrik Tenaga Sampah, yang sejajar dengan PLTU,PLTA,PLTN, dll.
- Jenis usaha pemantau polusi udara dan kemurnian air, hujan asal dengan mendirikan banyak stasiun pemantau yang tersebar di daerah rawan.
- Pabrik Daerah Aliran Sungai (DAS) dan pemeliharaan DAS, termasuk ahli reklamasi sungai seperti di Korea.
- Pabrik peralatan anti polusi, seprti mesin pemurni, penyaring debu, injector oxigen pada ruang tertutup, cream anti radiasi, dll.
- Industri service, kumpulan jasa untuk mengatasi semua masalah polusi yang ada pada suatu perushaan.
- Land Filing, dapat dikerjakan oleh semua perusahaan kontruksi, asal mengetahui teknik anti keracunan pada air tanah, akibat urugan, dll.
- Penjualan kapal sampah bagi pelabuhan-pelabuhan dan penanggulangan polusi laut.
- Polusi appraisal Company, mirip SGS
- Polution law Consulting
- Perusahaan Reboisasi Hutan
- Packaging Consult.
- Perusahaan Pembuat Kubus Besi dari bangkai mobil, becak dan lain-lain untuk bahan baku pabrik baja.
- Pabrik pembiak dan penjual bakteri penolong, yang membantu percepatan pemulihan dan penjual bakteri penolong, yang membantu percepatan pemulihan tanah, sungai, tambak yang rusak, dll
- Pabrik kertas dari sampah kertas.
(Dirangkum dari tulisan Imran abdullah SH / Bidang Lingkungan Hidup-PAJ: www.paj.or.id)
PELUANG USAHA AGRIBISNIS
PEMBIBITAN SAPI POTONG DI CIPAMATUH
Agribisnis telah ditetapkan oleh PemDa JABAR sebagai salah satu core-business (Tulang Punggung) untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan yang berdaya saing dan ramah lingkungan.
Kawasan CIPAMATUH yang mempunyai area seluas 500.000 ha, meliputi 4 buah kabupaten di Jabar Selatan, yaitu Tasikmalaya, Garut, Cianjur selatan dan Bandung selatan. CIPAMATUH diambil dari singkatan kata Cikuray, Papandayan, Malabar dan Patuha, nama gunung-gunung yang membatasi kawasan agribisnis tersebut. Potensi sumber daya tanah dan agroklimate-nya sangat mendukung untuk dikembangkan sebagai pusat produksi rumput dan hijauan makanan ternak. Kepadatan ternak ruminasi dihitung dengan Livestock Unit (LU) sangat rendah, yaitu baru mencapai 15 LU/km2, sedangkan kepadatan ekonominya hanya 20 LU/100 penduduk. Karena itu kawasan agribisnis CIPAMTUH sangat cocok untuk dikembnagkan sebagai sentra produksi ternak sapi potong.
Beberapa peluang investasi antara lain untuk :
- Pengadaan bakalan untuk penggemukan sapi
- Makanan ternak (pakan) seperti konsentrat, hijauan makanan ternak, obat-obatan
- Daging
- Penyamakan kulit
- Pengelohan tepung darah, tulang
- Pengolahan pupuk kandang
- Rumah potong hewan
(Dirangkum dari tulisan: DR. Ir. H. Ramdhon Bermanakusumah)
Saturday, May 3, 2008
SANITASI Indonesia terburuk didunia
Indonsiaku sayang indonesiaku
Sedang menurut Direktur Amrta Institute for Water Literacy, Nila Ardhianie mengatakan, Tidak ada satu kota di Indonesia yang memiliki layanan limbah terintegrasi dan menyeluruh. Hingga saat ini hanya terdapat 11
Dan peneliti pada Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatra Utara (UISU), Ayu Lathifah mengungkapkan pada skla nasional ketersediaan air bersih baru mencapai sekitar 60 %. Artinya masih terdapat 40 % atau sekitar 90. 000.000 juta rakyat
Selain itu Penelitian Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPL-HD) Provinsi DKI Jakarta mengatakan di tahun 2006 ada 13 sungai yang mengalir tercemar bakteri e-coli ini. Bakteri yang berasal dari sampah organic dan tinja manusia ini juga mencemari hamper 70 % tanah di kawasan Ibu Kota, sehingga berpotensi mencemari sumber air tanah.
Yang lebih kita terherannya adalah dari penelitian Water and Sanitation Program World Bank mengatakan bahwa lebih dari 94.000.000 juta penduduk Indonesia tidak memiliki toilet yang memadai di rumah-rumahnya. (Dikutip dari : jurnal national.com).
Bisa di bayangkan jika tiap hari kita minum 8 gelas air dan dalam (satu) 1 gelas itu ada 10.000 bakteri yang hidup misalkan, 8 gelas sudah 80.000 bakteri itu pun hanya di misalkan bagaimana jika lebih dari 10.000 dan berapa banyak bakteri itu yang kita minum lalu menjadi berapa banyak jika berkembang biak di dalam tubuh,…? Hal ini memungkinkan jika kejadian diare menjadi penyebab kematian seseorang. Berdasarkan penelitian sudah 50.000 kematian per tahunnya.
Sunday, March 16, 2008
Sampah Tentara Amerika Jadi Sumber Tenaga di Irak

Sampah berupa botol plastik, piring plastik, dan sampah lain yang ditinggalkan tentara Amerika di Irak sebentar lagi bakal berubah jadi sumber tenaga listrik yang mampu menerangi seisi desa.
Angkatan bersenjata Amerika sedang mempersiapkan pengiriman 2 alat pengolah limbah yang masing-masing berkapasitas 4 ton ke Irak. Alat pengolah limbah tersebut didesain untuk mengubah tumpukan sampah menjadi energi listrik.
Masing-masing mampu bekerja selama 20 jam dengan sampah seberat 1 ton untuk menghasilkan listrik yang mampu menerangi 1 desa kecil. Alat tersebut dibuat oleh ilmuwan dari Purdue University sebagai bagian dari proyek pengurangan pemakaian bahan bakar di Irak.
Semula tujuannya adalah untuk mengurangi pemakaian bahan bakar untuk generator sehingga alokasi bahan bakar bisa dipindahkan untuk kendaraan dan peralatan militer lain.
Alat pendaur ulang sampah yang masing-masing berharga US$1 juta itu didesain khusus untuk menghadapi iklim yang ekstrim di Irak. Di samping keunikannya karena mampu membakar bermacam-macam jenis sampah dalam sekali proses, alat ini juga mudah dipindahkan.
Saat sampah dimasukkan, masing-masing jenis akan dipisahkan dan diproses untuk menjadi bahan bakar yang kemudian digunakan untuk menjalankan mesin diesel yang mampu menghasilkan tenaga sebesar 60 ribu watt. Alat ini akan mengambil hasil listrik yang diproduksinya sekitar 10% sedang sisanya yang 90% dapat dipakai untuk kepentingan lain.
Menggunakan alat ini sama artinya menghasilkan energi listrik dengan biaya murah dan pada saat yang sama memusnahkan sampah tanpa resiko polusi. Kapanlagi.com
Sampah Menyumbang Laju Berubahnya Iklim Global
Data Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) yang diperoleh di Jakarta, Selasa menyebutkan bahwa manusia dalam setiap kegiatannya hampir selalu menghasilkan sampah, sementara sampah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap emisi gas rumah kaca.
Fakta ilmiah menunjukkan bahwa sampah adalah salah satu penyumbang gas rumah kaca dalam bentuk metana (CH4) dan karbondioksida (CO2).
Pembuangan sampah terbuka di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah mengakibatkan sampah organik yang tertimbun mengalami dekomposisi secara anaerobik, proses itu menghasilkan gas CH4.
Metana sendiri mempunyai kekuatan merusak hingga 20-30 kali lebih besar daripada CO2.
Sampah menghasilkan gas metana (CH4) dengan komposisi rata-rata tiap satu ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana.
Menurut Anggita Dhiny Rarastri dari Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran KLH, dengan jumlah penduduk yang terus meningkat di Indonesia, diperkirakan pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan per hari sekitar 500 juta kg/hari atau 190 ribu ton/tahun.
"Ini berarti pada tahun tersebut Indonesia akan mengemisikan gas metana ke atmosfer sebesar 9.500 ton," kata Anggita.
Ia pun merujuk kepada rekomendasi hasil kajian Pelangi dan KLH, "Sampah kota perlu dikelola secara benar, agar laju perubahan iklim bisa diperlambat".
Menurut data KLH, pada tahun 1995 rata-rata orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah 0,8 kg per hari dan terus meningkat hingga satu kg per orang per hari pada tahun 2000.
Lebih lanjut diperkirakan timbunan sampah pada tahun 2020 untuk tiap orang tiap hari di Indonesia mencapai 2,1 kg.
Walaupun sama-sama menghasilkan sampah, jumlah gas metana yang diemisikan negara berkembang dan negara maju tidaklah serupa. Secara global kira-kira 65% emisi gas metana dari TPA berasal dari negara maju, sementara 15% dari negara transisi secara ekonomi, dan 20% dikontribusikan oleh negara berkembang.
Gas metana berada di atmosfer dalam jangka waktu sekitar 7-10 tahun dan dapat meningkatkan suhu sekitar 1,3 derajat Celsius per tahun.